Mahasiswa dan Bangsa,.
Berikut tulisan yang dibuat untuk memenuhi pra syarat menjadi mentor InKM 2008, semoga dapat bermanfaat dan menjadi pelajaran bagi kita semua. Mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan yang terdapat pada tulisan ini. Segala ilmu yang datangnya dari Tuhan dan yang salah adalah murni dari penulis sebagai manusia biasa,.
–
"Indonesia", apa yang terbayang ketika suatu waktu mendengar kata itu? Apakah sebuah bangsa yang menempati wilayah negara di antara dua benua dan dua samudra yang konon memiliki anugrah berupa kekayaan alam yang melimpah? Atau sebuah bangsa yang dahulu menjadi wilayah jajahan Belanda dan Jepang hingga akhirnya mencapai kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945? Ataukah sekedar sebuah bangsa yang kini menjadi bangsa yang penuh dengan korupsi dan kemiskinan di setiap pelosok negeri?
Semua hal di atas adalah benar adanya, segalanya merupakan bagian yang menjelaskan apa yang disebut dengan ‘Indonesia’. Bagian-bagian tersebut dan berbagai bagian lain yang menjelaskan ‘Indonesia’, mungkin tampak membingungkan. Namun, jika kita menyatukan seluruh bagian itu, maka kita akan dapat melihat bahwa sesungguhnya setiap bagian itu menunjukkan setidaknya satu hal, yaitu bahwa bangsa Indonesia sedang mengalami masalah.
Masalah apa yang sedang melanda bangsa itu, bukankah mereka dikarunai kekayaan alam yang bahkan membuat berbagai bangsa iri dan menghendakinya? Bukankah masih sering kita temui orang-orang yang berfoya-foya dengan kekayaan yang dimilikinya seolah hidup ini terlalu singkat untuk disiakan tanpa menghamburkan sesuatu apa pun?
Kawan,.. Cobalah untuk merenung sejenak, pikirkan dengan hati yang tulus, bayangkan bahwa di saat yang sama di suatu pelosok kota yang penuh gemerlap kesenangan, seorang yang kaya raya dengan tanpa beban menghamburkan uang sekedar untuk memenuhi kesenangannya semata, namun di sisi lain yang bahkan tak begitu jauh dari sana, sekumpulan orang dengan penuh tangisan dan tetes peluh perjuangan bekerja keras demi memperoleh sesuap nasi untuk mereka dan keluarga mereka.
Apakah ini yang disebut dengan bangsa yang merdeka? Inikah kondisi yang dibayangkan Bung Karno dan Bung Hatta ketika mereka memproklamasikan kemerdekaan Indonesia? Ataukah ini hasil yang selayaknya didapat dari 63 tahun pemerintahan Indonesia?
Tidak sedikit rakyat yang mengeluh akan sulitnya kehidupan saat ini, sudah terlalu banyak pengorbanan yang dilakukan untuk sekedar mendapati penderitaan seperti ini. Masihkah kita layak menyebut diri sebagai bangsa yang merdeka, ketika bahkan pemerintah yang memimpin bangsa ini, tidak memperhatikan kondisi rakyat yang demikian sulitnya?
Kawan,.. Bangsa ini tidak lagi memerlukan komentar atau pendapat serta sekedar rasa prihatin dari kita semua. Sudah terlalu banyak orang yang ’sekedar’ tahu akan masalah yang melanda bangsa ini, kita tidak memerlukan pakar suatu bidang untuk bangkit dari segala keterpurukan, yang kita perlukan adalah orang-orang yang siap berkorban dan memegang teguh nilai-nilai perjuangan untuk membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.
Bung Karno pernah berkata, "Beri saya 10 pemuda, maka saya akan mengubah dunia". Akan tetapi, apa istimewanya pemuda? Bukankah mahasiswa juga pemuda? Lalu, di manakah peran mahasiswa? Bagaimana mereka mampu menjadi solusi bagi bangsa? Apa yang dapat mereka lakukan dengan status mereka itu?
Mahasiswa adalah pemuda, namun yang dimaksud Bung Karno bukanlah sekedar mahasiswa yang kini menjalani hari-harinya dengan tanpa sedikit pun memikirkan kondisi lingkungannya. Mahasiswa yang menjadi pemuda yang dapat mengubah dunia adalah mereka yang siap untuk berjuang demi orang lain, mereka yang tidak sekedar mengedepankan kepentingan pribadi atas segalanya.
Bagaimana mahasiswa dapat berjuang, bukankah kewajiban mereka sekedar belajar? Bukankah mereka adalah kaum elit terpelajar yang dipersiapkan menjadi tenaga kerja di berbagai perusahaan besar?
Memang benar bahwa mahasiswa adalah kaum terpelajar, dan tidak dapat dipungkiri bahwa tidak sedikit sistem pendidikan yang dijalani kebanyakan mahasiswa membentuk mereka sebagai pekerja di berbagai perusahaan besar. Akan tetapi, mahasiswa yang kita bicarakan di sini adalah mereka yang memegang teguh nilai dalam hidupnya, bahwa proses pembelajatan yang dialaminya adalah untuk menjadi solusi bagi bangsa ini, bahwa dirinya akan menggunakan ilmu yang diperolehnya untuk kebaikan lingkungannya.
Berati, cukup dengan belajar dengan sungguh-sungguh maka mahasiswa dapat menjadi solusi bagi bangsa ini? Lalu, untuk apa mahasiswa melakukan demonstrasi dan berbagai aksi lain ketika mereka hendak menentang suatu keputusan atau memprotes kondisi yang ada di masyarakat?
Kawan,.. Baca dan renungkan makna di balik cerita berikut…
…
Alkisah tersebutlah sebuah keluarga dengan seorang anak kecil, mereka mempekerjakan seorang penjaga rumah dengan kewajiban membersihkan rumah, mencuci baju dan memasak makanan.
Di suatu pagi, sang ayah dan ibu pergi tanpa membawa anak mereka yang masih kecil, mereka menitipkan rumah kepada sang penjaga dan mengingatkan untuk menjalankan kewajibannya tadi. Kemudian, sang penjaga rumah pun menjalankan kewajibannya, tanpa sadar, sang anak yang masih kecil bermain di sebuah kolam dan dia terpeleset hingga masuk ke kolam dan terancam tenggelam.
Sang anak berteriak minta tolong dan di waktu yang sama, sang penjaga sempat mendengar suara teriakannya. Namun, karena dia sedang disibukkan dengan kewajibannya tadi, dia mengacuhkan suara itu dan berpikir, "bukan kewajiban saya untuk menjaga anak". Hingga akhirnya, sang anak pingsan dan kehilangan nyawanya akibat kehabisan udara.
Sore harinya, sang ayah dan ibu pulang ke rumah dan melihat bahwa sang penjaga melaksanakan kewajibannya dengan baik, mereka pun tampak senang, hingga akhirnya mereka menemukan fakta bahwa sang anak mengalami kecelakaan dan bahwa sang penjaga mengetahui hal itu namun sama sekali tidak membantunya.
…
Kira-kira, bagaimana sikap sang ayah dan ibu menghadapi hal itu? Apakah mereka akan tetap senang karena walau bagaimana pun, sang penjaga berhasil menjalankan kewajibannya dengan baik?
Dengan segala kewajaran dan sisi kemanusiaan, alangkah baiknya dan sudah sewajarnya sang penjaga menolong sang anak, bukan hanya sekedar menjalankan apa yang menjadi kewajibannya belaka, sedangkan dirinya mengetahui bahwa di tempat yang dekat dengannya sedang ada masalah. Bahkan sesungguhnya dia memiliki kemampuan untuk melakukannya.
Kawan,.. Demikian pula dengan mahasiswa, memang kewajiban kita adalah belajar dan menjadikan ilmu kita bermanfaat bagi lingkungan kita kelak. Bahwa dengan kita sungguh-sungguh dalam menggali ilmu di bangku perkuliahan, maka kita dapat menjadi solusi bagi bangsa ini. Akan tetapi, cukupkah demikian, sedangkan di lain sisi kita memiliki kemampuan lebih dan kita pun sadar ada yang dapat kita perbuat dengan kemampuan kita terhadap lingkungan kita saat ini. Cobalah bertanya ke dalam diri masing-masing, layakkah kita berdiam diri ketika kita mengetahui keberadaan masalah di dekat kita dan dengan segala kemampuan yang kita miliki?
Bangsa kita saat ini berada dalam kondisi yang memprihatinkan, indeks pendidikan Indonesia pada tahun 2007 berada di urutan 97, bahkan di bawah Malaysia, padahal dahulu rekan-rekan guru dari Malaysia sempat menuntut ilmu di Indonesia.
Sayangnya perbedaan semangat untuk belajar dan dukungan dari sistem pemerintahan membuat kita bahkan tertinggal meski dengan segala kekayaan dan kemerdekaan yang kita peroleh jauh sebelum Malaysia yang baru memproklamasikan kemerdekaannya pada 31 Agustus 1957 oleh Tunku Abdul Rahman Putra Al-Haj.
Kawan,.. Hidup ini terlalu singkat jika kita hanya memikirkan diri kita sendiri, hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan hanya dengan mengutamakan kepentingan pribadi semata. Bukankah manusia yang paling baik adalah mereka yang paling bermanfaat bagi lingkungannya?
Mari kita terus berkarya sebagai mahasiswa, untuk membawa bangsa Indonesia ke arah yang jauh lebih baik. Namun, jangan pernah lupakan bahwa meski sebelum kita mampu menghasilkan suatu karya apa pun, kita telah memikul tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat, jangan pernah menutup mata dari kenyataan yang ada, apalagi berusaha melarikan diri dari tanggung jawab itu.
Lihatlah sekeliling dan sadarilah betapa beruntungnya diri kita. Lihatlah dengan hati nurani kita dan mulailah belajar untuk berbagi dan berkontribusi kepada lingkungan, mulai dari diri kita sendiri, mulai dari hal yang kecil dan mulailah sekarang juga. Semoga kelak, bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik, meski mungkin kita tidak lagi sempat merasakan buah perjuangan yang kita lakukan saat ini, namun yakinlah bahwa sekecil apa pun perjuangan kita, adalah bagian dari langkah besar menuju Indonesia yang makmur, adil dan sejahtera.
–






