Emansipasi ─ Antara Perjuangan dan Kenyataan,.
Era globalisasi memang telah membawa berbagai persaingan dan memacu sejumlah perkembangan dalam kehidupan manusia hingga saat ini, mulai dari dunia teknologi di berbagai bidang hingga pola hubungan antar individu yang kini berkembang di masyarakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa globalisasi telah memberikan sejumlah dampak positif bagi kehidupan manusia, meski di sisi lain tidak sedikit dampak negatif yang ditimbulkan, khususnya bagi masyarakat golongan tertentu.
Salah satu dampak globalisasi yang masih menimbulkan pertentangan di berbagai kalangan adalah menyangkut masalah kesetaraan gender antara pria dan wanita dalam berbagai aspek kehidupan. Aspek yang paling sering dibahas adalah seputar kesetaraan derajat dan kesempatan kerja, bahkan kini sudah menjadi hal yang lazim bahwasanya wanita menjadi sosok yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Salah satu sosok fenomenal dari kaum wanita yang mengukir sejarah pertama dalam dunia pemerintahan Indonesia sebagai presiden wanita pertama pada periode 2001-2004, Megawati Soekarnoputri. Meski dengan berbagai kekurangan beliau sebagai kepala negara, seperti yang banyak diungkapkan berbagai pihak mulai dari pengamat dunia politik hingga rakyat biasa, setidaknya beliau telah berhasil membuktikan bahwa wanita pun mampu menempati posisi-posisi yang biasanya diisi oleh pria. Hal serupa pun terjadi di Filipina, yang sejak 20 Januari 2001 dipimpin oleh Gloria Macapagal-Arroyo sebagai kepala negara setelah sebelumnya pada periode 1986-1992 Corazon C. Aquino menempati tampuk kepresidenan Filipina.
Ketika kita melihat kehidupan wanita di tanah air pada zaman dahulu, di mana kultur dan budaya daerah masih memiliki pengaruh yang sangat kuat di berbagai daerah, seperti Jawa dan Bali, dapat dengan mudah kita simpulkan bahwa kehidupan kaum wanita saat itu memang sangat memperihatinkan. Hal tersebut merupakan dampak tidak langsung dari berbagai budaya yang mengikat dan membatasi kehidupan seorang wanita, bahkan ketika itu sangat sulit bagi seorang wanita untuk memperoleh pendidikan dan hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Selain itu, harkat dan martabat perempuan juga masih belum dihargai sebagaimana kita temui saat ini, terbukti dengan merebaknya praktek poligami atas dasar kekuasaan seorang pemimpin suku atau daerah tertentu dalam bentuk perseliran dan sejenisnya.
Ketika itu, perjuangan menentang praktek poligami telah mulai berkembang, salah seorang tokoh yang dikenal menentang keras poligami dan memperjuangkan hak wanita Indonesia adalah RA. Kartini.
Anak perempuan dari 11 bersaudara sekaligus putri pertama dari keluarga Sosroningrat yang ketika itu sempat menjabat sebagai Bupati Jepara ini sempat mengenyam pendidikan di ELS (Europese Lagere School) ─tempat di mana Kartini mempelajari bahasa Belanda─ hingga berusia 12 tahun. Dengan berbekal kemampuan bahasanya, Kartini mulai membaca berbagai buku, koran dan majalah Eropa, sehingga muncul ketertarikan dirinya untuk mengenal lebih jauh pemikiran wanita Eropa yang sangat dikaguminya. Dari sanalah timbul keinginan Kartini untuk memajukan pemikiran wanita pribumi ketika itu.
Aspek yang sangat berpengaruh dalam membentuk pola pikir Kartini adalah hubungan dirinya dengan sahabat pena yang berasal dari Belanda, diantaranya adalah Rosa Abendanon, sosok yang banyak mendukung pemikiran Kartini; Dr. Adriani, seorang ahli bahasa dan pendeta yang bertugas menyebarkan Kristen di wilayah Toraja, sekaligus merupakan sahabat pena yang paling dekat dengan Kartini; dan Estelle Zeehandelaar (Stella), seorang Yahudi Belanda anggota militan pergerakan feminis di negeri Belanda saat itu.
Beberapa tahun setelah wafatnya Kartini, 17 September 1904, berbagai pemikiran Kartini yang tercantum dalam 105 lembar surat yang ditulisnya kepada sahabat-sahabat penanya kemudian dibukukan oleh JH Abendanon, mantan direktur Departemen Pengajaran dan Ibadat Hindia Belanda pada tahun 1911, buku tersebut diberi judul "Door Duiternis tot Licht: Gedachten Over en Voor Het Javaansche Volk van Raden Ajeng Kartini" yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi "Habis Gelap Terbitlah Terang: Pemikiran tentang dan untuk Orang-Orang Jawa dari Raden Ajeng Kartini" atau yang dikenal singkat dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.
Sosok Kartini memang telah memberikan sebuah warna baru dalam kehidupan wanita, meski tidak dapat dipungkiri bahwa dirinya mengalami kegagalan dalam memperjuangkan apa yang menjadi pemikirannya ─fakta yang cukup menyakitkan adalah bahwa Kartini sendiri terjebak dalam situasi yang tak terelakkan bahkan menjadi korban feodalisme dan poligami ketika dirinya menikah dengan Djojoadiningrat yang telah beristri tiga dengan tujuh anak pada 8 November 1903─ meski dirinya hanya mampu sekedar mengutarakan pemikiran yang dimilikinya selaku wanita yang sadar bahwa kaumnya berhak memperoleh nasib yang lebih baik dari apa yang dialaminya. Kartini adalah sosok pejuang pemikiran modern pertama sekaligus menjadi inspirator bagi pemikir lainnya, dia bukan sekedar pejuang pergerakan wanita belaka, melainkan seorang pejuang pembebasan pemikiran untuk bangsanya.
Kartini ketika itu hidup dalam masa penjajahan Belanda, yang ketika itu menerapkan sistem tanam paksa, dan yang lebih memprihatinkan adalah moral bangsa Indonesia yang menempati kedudukan sebagai kaum elit pribumi. Mereka sama sekali tidak tergerak melihat penderitaan yang dialami bangsa Indonesia, bahkan justru turut serta berlaku semena-mena menindas bangsa sendiri dengan mengatasnamakan pemerintah.
Kondisi yang terjadi lebih dari 100 tahun yang lalu itu tidak jauh berbeda dengan apa yang kita temui saat ini, ketika kita melihat negara-negara lain yang tiada hentinya mengambil keuntungan dari bangsa Indonesia melalui berbagai langkah, mulai dari pencurian sumber daya alam, budaya hingga manipulasi kebijakan pemerintah. Di sisi lain, wakil rakyat juga turut mengambil keuntungan dari proses tersebut, mereka sama sekali tidak tampak peduli dengan nasib yang dialami bangsa Indonesia akibat perbuatan pihak asing maupun pengusaha-pengusaha besar yang hanya mementingkan kepentingan sendiri.
Nasib yang tidak lebih baik pun dialami bangsa Indonesia yang menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW), yang menjadi korban pelecehan dan berbagai perilaku kasar dari majikannya. Berbagai kondisi tersebut sangat jauh dari apa yang diimpikan Kartini, bahwa praktek feodalisme tiada lagi menimpa bangsa Indonesia, khususnya kaum wanita Indonesia, sehingga mereka mampu berpikir dan menentukan nasibnya sendiri tanpa harus mendapat tekanan dan penindasan dari pihak manapun.
Berbagai pewacanaan mengenai emansipasi yang kini terus bergulir pun hanya berkutat pada masalah kesempatan kerja yang semata-mata merupakan seuatu bentuk pembenaran atas keinginan segelintir kaum wanita yang hendak meniti jalur karirnya. Sedangkan bagaimana dengan mereka yang bahkan hingga saat ini belum memperoleh perlakuan selayaknya seorang manusia dengan berbagai hak dan kewajiban yang semestinya ada pada setiap orang.
Kasus penganiayaan dan jual beli wanita hingga kini belum memperoleh perhatian serius, bahkan seolah pihak berwenang pun tampak mengubur kasus-kasus seperti itu sehingga tidak menjadi perhatian masyarakat. TKW pun kini tampak terlupakan, padahal banyak dari mereka yang diperlakukan semena-mena, padahal mereka mencoba mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri akibat putus asa dengan kondisi yang ada di Indonesia, di mana mereka harus menguras tenaga mereka untuk bekerja di pabrik-pabrik milik perusahaan asing dan bukannya meluangkan waktu untuk mengasuh anak dan menjadikan mereka generasi penerus yang tangguh.
Benarkah isu emansipasi yang kini dibicarakan kalangan yang mengaku dirinya berpendidikan merupakan solusi bagi permasalahan yang dialami bangsa Indonesia pada umumnya dan lebih spesifik lagi bagi kaum wanita, hal tersebut masih perlu dipertanyakan. Tampaknya belum ada sosok yang mampu menggantikan Kartini, pejuang kaum wanita yang tulus memperjuangkan nasib seluruh kaum wanita, bahkan enggan menyandang gelar Raden Ajeng sebagai panggilannya dan lebih memilih dipanggil Kartini seperti apa yang tertulis dalam buku berjudul "Panggil Aku Kartini Saja" karya Pramoedya Ananta Toer.
Semoga akan tiba suatu masa di mana bangsa Indonesia tidak sekedar memiliki pola pikir modern, akan tetapi juga mampu berpikir untuk kemajuan bangsanya, bangsa yang memberikan kesempatan di bidang pendidikan dan karir bagi kaum wanita, bangsa yang bersih dari segala tindak penjajahan baik dari pihak asing maupun sesamanya dalam bentuk apapun.


